Respons Baloyskie terkait stigma negatif di scene esports

Baloyskie menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di scene MLBB. Nama besarnya di Filipina, serta kesuksesan dia ketika bermain di Indonesia membuat sang pemain menjadi salah satu contoh sukses pemain MLBB.

Scene MLBB menjadi begitu masif di Indonesia beberapa tahun terakhir. Boomingnya game ini ternyata bertahan dan kian berkembang. Komunitas semakin besar, ranah esports-nya pun kian potensial.

Meski begitu salah satu yang tak bisa dihilangkan adalah stigma negatif esports itu sendiri. Selalu ada sesuatu yang toxic, terutama di media sosial.

Saling menghujat sana sini, sarkas di sana kemari. Bahkan sesuatu yang membuat mental pemain yang ditargetkan menjadi jatuh.

Tak hanya soal fans toxic, tapi ada beberapa kecenderungan soal streamer memberikan pengaruh buruk kepada penontonnya. Karena kata-kata kotor, atau mungkin pendapat yang membuat fans jadi ikut-ikutan padahal tak selalu benar.

BACA JUGA
Baloyskie tunjuk dirinya sebagai biang kekalahan Geek Fam
Geek Fam Jr juara MDL ID S9, RRQ Sena kena comeback paling gila
Coach Adi: EVOS jago, DreamS salah satu top 1 Franco
EVOS Holy main 3 laga dalam sehari setelah grand final, tetap gacor

Baloyskie bicara soal toxic di dunia esports

Pada sebuah pembahasan di tengah playoff MPL ID S13 tentang menghapus stigma negatif Esports. Baloyskie mengungkapkan pendapatnya.

Menurutnya semua hal yang toxic belum tentu memengaruhi para pemain. Pada akhirnya lingkungan yang baik akan sangat membantu untuk menghalau hal-hal seperti itu.

Geek Fam, MPL ID S13, MLBB, Mobile Legends
Kredit: Dhonazan Syahputra/ONE Esports

“Menurut gua semua pekerjaan bisa toxic juga tergantung orangnya. Kalau tim kamu ngga toxic, kamu jangan toxic. Pasti ada kritik memang buat kamu, tapi kalau kamu bisa berlaku baik, pasti baik juga yang kamu terima,” kata Baloyskie dilansir Esports.ID

Terlepas dari itu, semakin berkembangnya scene MLBB, kedewasaan fans kian terlihat. Walau Toxicity itu tak bisa hilang, setidaknya sekarang cara menanggapi toxic dari pelaku esports itu sendiri semakin baik.

Para fans pun usianya bertambah dan semakin sadar bahwa toxic itu tidak penting dan tak perlu dilakukan.